My Distraction Darlings

Semakin hari saya semakin sering membaca tulisan dalam format digital. Bukan hanya blog pribadi, situs web, buku elektronik, apapun yang berhubungan dengan desain, terkadang saya juga bisa larut dan “menghilang” dalam kisah dan gagasan yang tidak secara langsung berhubungan dengan desain. Sedemikian rupa sehingga kadang tak sadar kalau klien sudah mengirim pesan beberapa jam sebelumnya, “Mas, ditunggu filenya ya?”. Djanc&)#$(&(O()*!

Berikut sebagian penulis yang paling nikmati karyanya. Diurutkan semata menurut yang terakhir saya akses.

 

  1. Anggara Gita, dan Nuran Wibisono, di minumkopi.com

Minumkopi.com barangkali adalah hal menakjubkan berikutnya yang hanya bisa muncul dari jagat seantik kopi. Di website ini ada banyak informasi teknis, juga berbagai kisah dan gagasan mengenai kuliner, sejarah, budaya dan gaya hidup, juga romansa.

Dan di sini Anda bisa menikmati perhatian ekstra terhadap teks. Dari mulai pemilihan huruf, heading, dropcaps, dan berbagai fitur huruf yang bukan hanya secara teknis menjamin betah membaca berlama-lama, namun juga menjadikan membaca sebagai sebuah pengalaman yang beradab. Ini pencapaian desain website dan juga tipografi yang cukup jarang mau diusahakan oleh website sejenis yang tentu layak untuk diapresiasi.

Dan sejauh ini, diantara para kontributor yang karyanya lumayan banyak, adalah Nurani Wibisono, dan Anggara Gita, dua penulis yang paling berhasil menurunkan tingkat produktifitas saya, dengan caranya masing-masing.

Sementara Wibi mengocok perut dan pikiran, Anggara menggombal-gambil perasaan lewat romansa pribadi bermodus kedai kopi. Anggara bisa membuat saya kembali mengingat bagaimana fakta itu kerap berasa fiksi, dan yang real sesungguhnya selalu sureal. Mungkin di situlah memang letak keotentikan Anggara. Makhluk setengah fiksi, setengah balon fantasi. Tak segan menyuguhkan berbagai mimpi yang tengah dijalani, termasuk mimpi buruknya!.

 

  1. R.Z. Hakim

Tak sengaja ketemu blognya ketika mencari informasi mengenai sejarah percetakan Indonesia yang sedihnya, hanya secuil saja ada di jagat maya. Tak lama kemudian saya bertemu lagi dengan karyanya di minumkopi.com sampai-sampai saya merasa, ehm, dunia blogging ini kecil ya (ngarep!).

Hakim menulis dari, dan kebanyakan mengenai hal-hal keseharian di sebuah desa di Jember bernama Kalisat. Berbagai topik seputar arsitektur, sosial, lingkungan, dan juga tentu, orang-orangnya, Hakim catat dan riwayatkan tanpa rasa minder, atau juga ngiler yang berlebihan. Secara hangat Hakim berusaha mengikis pretensi, menerima dan menghargai saja berbagai hal yang ada di diri dan lingkungannya, walaupun mungkin sepintas kecil, ganjil, dan remeh-temeh.

Lewat ketekunan dan kebersahajaan tulisannya ini, bukan saja Hakim berhasil membuat saya merasa ingin pergi secepatnya ke Kedai Kalisat. Mengobrol sampai subuh, menyesatkan diri di dunia dimana sepertinya waktu selalu selalu berhasil dikekalkan (atau setidaknya, diberhentikan). Namun juga mengingatkan saya bahwa dimanapun itu, kehidupan yang tersusun dari hal-hal kecil ini, bila diikat dengan tulisan akan menumbuhkan masa depan yang berbeda pula.

Url lain: https://www.kompasiana.com/acacicu

 

  1. Dea Anugrah

Saya tahu Dea melalui bukunya Bakat Menggonggong. Belakangan saya membaca kolom-kolomnya di tirto.id, dan bisa dibilang cukup “menikmati” (bayangkan kata ini diucapkan dengan mata terbelalak ke bawah, alis ke atas, dan gigi agak sedikit gemeletuk). Ada kalanya saya trenyuh. Kadang mringis. Kadang juga bingung sendiri ,”Ini maksudnya apaaaa ya?”.

Tapi ya begitulah Dea. Penulis dan juga reporter yang memperlakukan tidur seperti kacung tenis. Yang keotentikannya saya harap bisa bertahan lama, dan beranak pinak ;-).

 

  1. Ferizal Ramli

Ini blognya wong Banten yang menetap Hamburg, Jerman (sekolah lalu bekerja dan menetap di sana). Diisi oleh beragam topik dari mulai bahasa, kesehatan, pendidikan, politik, juga agama. Ferizal is a warm display of confidence and endurance.

Meskipun beberapa tulisannya acak-adul secara struktur dan grammar, juga tak segan dijejali dengan diksi-diksi yang jahil, he just deliver. Mempublikasikan satu tulisan per minggu bukanlah pencapaian yang mudah untuk penulis blog non profesional, dan Ferizal melakukannya bahkan sambil membalas komentar di sana-sini.

Hal positif lain yang bisa dipelajari dari beliau barangkali dedikasinya terhadap bangsa dhewe. “Nationalism is not locus, but contribution“. Perbedaan lokasi tak menyurutkan motivasi beliau untuk berbagi. Saya pikir lokasi beliau yang tidak di Indonesia ini justru mungkin faktor yang paling berpengaruh untuk menulis online. Ini seperti bensin untuk api dari cara berpikir progresif yang beliau miliki. “Lah, kita sekarang berada di abad 21, di tengah dunia internet, kenapa juga ilmu dan informasi itu harus digantungkan pada lokasi?”.

Selain itu, dengan lokasi berbeda, kalau tulisannya nyinggung perasaan orang Indonesia kan susah dicari? Hehe. Nggak juga sih. Masih ada interpol, dan hukum ekstradisi, tapi ya pasti beda-lah, bila orang yang nyinggungnya berada di Indonesia. No offense. Just kidding.

Bagaimanapun juga, yang om Ferizal lakukan sungguh berbeda dengan yang banyak anak bangsa lakukan di negaranya sendiri. Beliau tertarik dengan keilmuan, bukan hanya emosi dan kepentingan pribadi.

Dan ini juga yang terasa melalui usaha beliau dalam membagikan informasi mengenai Jerman, terutama dunia pendidikannya. Serius, bila agan atau sista kepincut buat sekolah di Jerman. Kuliah tanpa keluar biaya di berbagai universitas kelas dunia, ini adalah blog yang paling saya rekomendasikan untuk dikunjungi.

Dan oya, om Ferizal tak segan-segan menunjukkan ketidak setujuannya dengan gagasan dan sepak terjang Presiden Jokowi, juga obsesinya terhadap Anies Baswedan (yang terakhir ini bahkan mendapatkan laman khusus bertajuk “Excelencia”). Bila Anda tak ada masalah dengan kedua hal tersebut, saya rasa Anda akan cukup menikmati tulisan-tulisannya.

 

  1. Dee Lestari

Lets save the best for last. Ibu suri, demikian kerap dipanggil oleh para fans, dan kadang juga oleh saya. Ditulis terakhir supaya tak terasa sebagai kong-kalikong berhubung beliau adalah rekan kerja (baca: klien) saya sejak lama.

Di blog Ibu suri ini kamu bisa menjumpai berbagai tulisan, dari yang agak panjang sampai dengan panjang, namun tak terasa menjemukan saking luwes, dan cerkasnya dalam menyampaikan substansi. Ah tentu saja, namanya juga Dee. Sukses membidani 13 novel yang sebagian setebal batu bata, menulis beberapa ratus kata untuk blog mah barangkali kerjaan sambil merem ;-).

Yang jelas, ada banyak hal yang bisa dipelajari di blog beliau selain tentu deskripsi mengenai novel-novelnya. Yang paling kentara barangkali adalah berbagai “percobaan” di klub memasak keluarga Gunawan. Yang sejauh ini belum terlihat ada tanda-tanda bakal ada bintang tamu sang suami, Reza Gunawan (ayo ikutan masak dong). Dan kedepan saya kira kalau ada lebih banyak kisah yang dishare seputar material, formula atau bahkan “adab” makan (begitu para orang tua kita bilang), bisa lebih seru.

Selain itu juga tentu ada informasi seputar kiat-kiat penulisan. Untuk yang terakhir ini Ibu suri bahkan membuat kategori khusus: Serial Surel, yang pada dasarnya adalah sharing ilmu penulisan secara gratis bermodus pertanyaan surel.

Bila pembaca kepikiran buat bikin novel. Pingin belajar dari beliau. Selain mengikuti langsung berbagai kelas pelatihan menulis yang tidak (belum) rutin diadakan, materi-materi yang ada di blognya ini saya rasa akan sangat bermanfaat.

-o  o-

Demikian listnya. Pasti ada yang terlewat, tapi tak apa, ntar ta’ sambung lagi saja.

Tulisan ini sudah pasti subjektif, tidak ilmiah, apalagi akademis. Maklumlah, saya bukan penulis apalagi profesional di bidang ini, cuman sekedar penikmat biasa. Ini saya catatkan sebagai apresiasi dan juga – mudah-mudahan – penyemangat, berhubung beberapa blog ini kini dorman, tak lagi aktif menyajikan tulisan.

Untuk para penulis yang tengah dorman ini. My distraction darlings. Kumohon:

Menulislah terus di internet. Plis.

Drown me more with your free of charge authenticity, and “excellencia”. Ahaha. Agar setidaknya saya bisa mensyukuri betapa menyenangkannya memiliki klien yang mau menunggu saya menghabiskan bacaan sebelum saya teruskan pekerjaannya ;-).

~ Terima kasih ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *