Kisah (Bola) Dunia

Sore ini pesanan bula dunia kami datang.

Bola dunia murah. Yang pertama kami miliki. Sebagai usaha berikutnya untuk menjelaskan bayangan di kepala Tea (anak kami, usia saat ini 8 tahun), bahwa jarak itu ada yang dekat, ada yang jauh, dan ada yang jauuuuuuuh sekali*. Juga untuk menghantarkan imajinasi dan logika, mengenai bagaimana di setiap inci dari jarak tersebut ada cerita, kisah yang sedemikian rupa mendefinisikan apa dan bagaimana kita sekarang.

Ya, saya kira penting agar anak-anak bisa sejak dini memandang dunianya secara lebih utuh, dan tidak taken from granted. Bahwa apa yang ada di dirinya dan sekitarnya ini bukan sesuatu yang “ujug-ujug”, begitu saja ada tanpa peran serta atau pengaruh dari apapun, manapun atau siapapun.

So, there it is. Setelah shalat magrib dan makan malam, cerita berikutnya yang saya janjikan digelar. Dengan instrumen baru; the *that* globe. Diantara sop buah home made, dan ‘salad’ buah pir dan pisang, dua jenis buah kegemaran Tea.

The story goes pretty random, actually.

Dimulai dari tanah Arab, di sekitar abad ke-6, ketika Muhammad SAW menjalin apa yang kemudian kita peluk sebagai agama Islam, kemungkinan ke beberapa abad sebelumnya mengingat apa yang beliau berusaha rangkul adalah ajaran dari puluhan orang berbeda masa.

Apa yang terjadi dalam kurun waktu bersamaan di belahan bola dunia yang berbeda; Nusantara. Bagaimana dulu Jawa dan Sumatera bersatu dan tanah Sunda menjalar dari pertengahan Jawa sampai ke daerah Lampung atau Riau, bagaimana kita bisa menemukan kesamaan dalam bahasa, hewan, tumbuhan dan lain sebagainya. Dan bagaimana di sebelum abad ke 6, jauh sebelum orang-orang Eropa datang, Nusantara bukan saja sudah berisi banyak kerajaan, namun juga dikunjungi oleh pelancong jauh – yang sebagian diantara kemudian bahkan jadi penguasa setempat – dari India, Cina, dan kemudian; Arab.

Beberapa cerita Tea pernah dengar sebelumnya. Namun bagaimana cerita mengenai misalnya; asal usul tulisan dari salah satu “pojokan” benua Afrika, bagaimana ini menyebar, ke daratan sekitarnya, dan singkat cerita hingga sampai ke Nusantara, adalah kisah yang sama sekali baru dan tak terbayangkan.

Cerita berakhir di satu babad Sunda-Majapahit, di satu kisah tragis tentang putri sunda nan cantik jelita Dyah Pitaloka diantara ambisi Gajah Mada untuk mempersatukan (baca; menaklukan semua kerajaan di Nusantara). Sepenggal episode yang menandai dinamika kebangsaan dan juga hubungan Kerajaan Sunda – Majapahit, suku Sunda dan Jawa, dari dulu hingga sekarang.

Dan tentu, nggak seru ceritanya kalau sang anak tidak dibiarkan menimpali:

   Cantik mana dia sama aku?”

Tanyanya. Ah dasar anak-anak.

   Ya cantik kamu dong, say.”

Dan begitulah. Sampai akhirnya sop buah saya habis.

Saya nggak tahu seberapa banyak dari cerita urakan dan tak sopan ini nempel di benak Tea. Mungkin tak penting benar itu saya pikirkan sekarang karena bagaimanapun Tea masih anak-anak, dan ini hari pertama kami bersama bola dunia.

   Mau tambah lagi pir & pisangnya, de?”

tanya saya.

   Udah ah.”

Begitu jawab Tea.

Ini adalah hari-hari terakhir pilek Tea, dan dia belum terlihat makan buah. Fakta bahwa ternyata satu mangkuk pir dan pisang berhasil dihabiskan tanpa terasa, I hope that mean something. Other than the story of the world/globe ;-).

~tamat~


*) salah satu kalimat paling “mengganggu” yang pernah Tea lontarkan berkaitan dengan jarak ini adalah, “Ayah aku pengen ke Ciater jam 4 nanti ya!”. Diucapkan dengan penuh percaya diri, pada pukul dua sore, di hari minggu, di akhir bulan. Dikiranya ayahnya selalu ada uang dan Ciater itu di RW sebelah kali ya?


Sedikit informasi lanjutan:

Tentang bola dunia:

Tentang sejarah Islam:

Tentang Nusantara, Indonesia; bahasa & sejarah:

Tentang Tragedi Bubat, Kerajaan Sunda, Majapahit dan Kidung Sunda:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *