Text only playlist vs anak 4 tahun yang belum bisa baca

Hari itu ceritanya, sesudah mandi Tea (nama anak saya, umurnya 4 tahun) ingin memainkan video Hi-5 kesukaannya. So, dia mengambil table, sementara saya diam-diam memperhatikan dari belakang.

Seperti biasa, tablet dihidupkan. No big deal, Tea bertemu deretan ikon, yang untuk anak-anak mah sungguh bahasa grafis yang familiar.

shot_000001

Tea menggeser layar, mencari ikon pemutar video, lalu menyentuhnya dua kali.

Nah, berbeda dengan interface sebelumnya. Tidak ada ikon di aplikasi pemutar video, tidak pula gambar sampul, atau apapun selain deretan teks. Yang tersusun berjajar dari atas ke bawah.

Seperti ini:

tampilan pemutar video, yang ada hanya teks.
tampilan laman playlist video, yang ada hanya teks.

“Dede lagi nyari lagu apa?” tanya saya. Sambil membathin,”gimana caranya dia bisa milih lagu, baca aja belum bisa?“.

“Star”, jawab Tea, lantang, sambil scroll layar ke bawah.

Oya, Sebetulnya lagu yang dicarinya itu judulnya “Wish Upon A Star”, tapi Tea lebih sering memanggilnya “Star”, begitu saja. Karena lebih praktis mungkin.

“Yang ini nih,” katanya lagi, sambil meng-klik dua kali satu baris teks tertentu. Dan benar! video Hi-5 muncul, dan mulailah Tea menari-nari mengikuti koreografi sang presenter.

“Astaga!”, Bathin saya.

She just hacked the playlist function

“Dede Tea tau dari mana yang tadi di teken itu lagu Star?”, tanya saya tercengang.

“Kan ibu yang kasih tau”, jawabnya.

“Lho, tapi dede Tea kan belon bisa baca?”, selidik saya. Habis, penasaran. Banget.

Tapi yah, gitu deh. Kalau ada yang bisa mengalahkan para interogator berpengalaman sekelas CIA, MOSSAD, atau lainnya, barang kali anak seumuran dia. Pertanyaan saya nggak digubris, Tea sibuk, asyik jingkrak-jingkrak.

(jedug, jedug, jedug, benturin kepala ke dinding)

Bagaimana mungkin seorang anak yang belum bisa membaca bisa memilih playlist?

– – –

Tea, seperti juga hampir semua anak-anak sebayanya, belumlah familiar dengan huruf. Dia belum bisa menikmati berbagai geometri dalam strukturnya, belum bisa memahami dinamika antar huruf, belum bisa menghubungkan hal tersebut dengan ujaran verbal, apalagi memahami arti dan merasakan nilai yang sebegitu besar dari semua hal tersebut. Faktor semantik, adalah hal yang kecil sekali keterlibatannya.

Apa yang Tea lakukan saya duga lebih banyak didasarkan pada faktor kegunaan dan sintaks, karakteristik teknis (atau fisikal) yang ada dari susunan teks tersebut, seperti:

  • Posisi. Judul yang dicari tersebut ada di relatif bagian atas atau bawah atau bagian atas dan bawah dari judul tertentu.
  • Gestur. Kualitas siluet yang melingkuti masing-masing judul, dan mungkin juga
  • Kontras antar semuanya. Beberapa judul ditulis hanya satu baris, beberapa lagi ditulis dua baris dan memenuhi hampir seluruh barisan -karena judul tersebut adalah judul yang panjang-, bebeberapa judul dua baris lainnya tidak memenuhi barisan – karena lebih pendek), dan juga gestur dari masing-masing elemen teks penyusun judul (beberapa judul mempunyai siluet berbeda karena kata nya lebih pendek atau panjang, dan juga karena adanya berbagai tanda baca: garis tengah, dan lain sebagainya).
Karena belum mengerti arti masing-masing teks, yang dede Tea lakukan bertumpu pada persepsi visual. Kurang lebih seperti ini.
Karena belum mengerti arti masing-masing teks, yang Tea lakukan bertumpu pada persepsi visual. Rangkaian teks tersebut ditafsirkan mungkin kurang lebih seperti ini.

 

Seperti yang kita bisa lihat, meskipun terkadang perbedaan kontras kurang tajam, siluet yang muncul dari susunan antar judul tidaklah ada yang sama persis.
Seperti yang kita bisa lihat, meskipun terkadang perbedaan kontras kurang tajam, siluet yang muncul dari masing-masing baris tulisan tidak ada yang sama persis.

 

Taraaa! dan begitulah, kemungkinan besar bagaimana dede Tea, dan seseorang bisa menavigasi pencarian melalui visual, tanpa terkait makna verbal dari teks
Taraaa! dan begitulah kemungkinan besar bagaimana Tea secara unik menavigasi pencariannya. Dengan bertumpu lebih banyak pada faktor visual.

She had the will, unique determination to pursue what she want, without minding, or care about her limitation on reading. She had methods, of visual cognition, of navigating tablet operations, of self sufficiency, as well as understanding the visual dynamic. And above all, she doing what it takes to tackle a problem: Creativity.

O little human. What kind of creature are you?

– – –

Anak saya sama sekali bukanlah seorang yang jenius atau dikarunia kemampuan “super” (semua anak sudah se”jenius” itu sejak dilahirkan!). Dan ‘insiden’ ini menurut saya berbicara mengenai banyak hal.

Ini menceritakan bagaimana kecerdasan visual adalah hal yang sudah tercetak sebegitu advanced dalam diri manusia, sejak lahir. Yang ditambah dengan kemampuan untuk survive memungkinkannya bisa melesat dengan mungkin sedikit saja pemberitahuan.

Ini juga berbicara mengenai bagaimana luputnya hal ini dari banyak radar orang dewasa. Sehingga bukan saja semakin berusia malah kecerdasan ini semakin tumpul, namun juga mungkin semakin kurang sadar, dan tak bisa menghargai dan mensyukurinya.

Dan ini tentu, juga berbicara mengenai posisi saya sebagai orang tua. Dimana disaat dia berjingkrak-jingkrak seperti itu hanya bisa mengurut dada, sambil sedikit was-was. Semoga ayahnya ini bisa terus mengikuti. Kalaupun tak cukup kuat untuk mendorong, at least tidak ‘ngagokin’ apapun hal bermanfaat bagi banyak orang, yang bisa dicapainya kedepan.

Amiin

– – –

Dan By The Way. Tea tak selalu memainkan tablet. Dia bermain dengan apapun yang bisa dimainkan, baik itu manusia, perangkat digital, mainan plastik, tanaman di pekarangan, termasuk poster-poster kertas angka seperti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *