Apakah anak saya punya pandangan x-ray?

Ceritanya sore itu ketika saya hendak mengambil makanan dari kulkas, Tea (anak saya, 4 tahun) nampak lagi asyik memotong-motong sesuatu.

“Dede Tea lagi apa?,” tanya saya seperti biasa.

“Ngeguntingin angka,” katanya.

Yang disebut sebagai “angka” itu sebetulnya poster belajar angka (dan huruf) sederhana yang sering dijual di toko buku atau emperan. Kebetulan waktu itu kami mampir ke pasar kaget, dan mem”borong”nya, lengkap dengan poster belajar huruf, alfabet dan arab. Poster-poster itu kami tempel di bagian belakang lemari sebelah kulkas, lengkap dengan gambar-gambar karya Tea. Nggak ada maksud apa-apa sebetulnya selain cuman mau mengenalkan. Jarang sekali poster itu kami bahas khusus kecuali memang Tea menginginkannya.

“Buat apa?,” tanya saya penasaran.

“Buat dimainin.” Jawab Tea.

Alah, ada apa lagi nih? tanya saya dalam hati, sambil was-was. Perasaan kok nggak enak yaa… :).

Dan benar saja …

“Ayah, ayo kita mainin!”, kata Tea bersemangat. Weitssss, tuh, bener kan? Otak saya sibuk jumpalitan mikirin harus  dimaenin kayak gimana hasil “karyanya” itu?

Eh, tapi nggak kerasa ternyata, permainan angka ini sampai sekarang sudah berjalan lebih dari 3, yang masing-masing sesi “sukses” mengantarkan saya buat mengenali kecakapan visual yang (tampaknya) berkembang lebih kuat di anak saya. Ini saya catetkan masing-masing mudahan bermanfaat juga buat para pembaca:

 

The Experiment

Sesi 1: The basic of tebak-tebakan (dan pengenalan angka)

Apalah daya, setelah angka-angka dipotongin itu, saya nggak bisa mikirin ‘permainan’ lain selain menebak, atau persisnya melafalkan nama angka. Sesi ini berjalan beberapa kali dalam beberapa bulan, yang terkadang supaya nggak ngebosenin diselingi sama semacam kompetisi yang melibatkan ibunya (a.k.a istri saya tercinta:).

Cara kerjanya sederhana. Saya memperlihatkan kartu ke hadapan para pemain, dan siapa yang paling cepat mengucapkan akan mendapatkan kartu tersebut di tumpukannya. Di akhir permainan, masing-masing kartu dihitung buat menilai siapa yang dapet kartu lebih banyak dan mendapatkan “bintang”, sejenis penghargaan imajiner untuk menekankan sisi kompetisi.

Ini sesi ‘drama’ yang cukup lucu. Karena saya & istri memang sengaja mengatur timing penebakan – lebih cepat atau lebih lambat – dan pura-pura nggak tahu supaya Tea (nama anak saya) bisa lebih kompetitif.

 

Sesi 2: Angka ditutup sebagian

Sesi 1 mulai ngebosenin, Tea sudah kenal semua angka. “Iseng-iseng” saya mencoba teknik baru, dimana angkanya ditutup sebagian sehingga hanya menyisakan bagian kecil (bawah, atas, atau pinggir), dan tulisan nama angka di bagian bawah, terkadang hanya sebagian. Beberapa kali kartu saya pegang terbalik supaya mempersulit pengenalan. Kurang lebih seperti ini:

angka_1 angka_2

Ini sesi yang cukup menantang karena bentuk yang tersisa dari satu angka dan angka lainnya seringkali sangat mirip.

Tentu saja, bagi ibunya yang alhamdulillah sudah bisa membaca :), ini pekerjaan yang mudah. Tinggal dibaca/ ditebak aja nama yang tertera di bagian bawah kartunya, beres. Tapi bagi anak umur 4 tahun yang belum bisa membaca, ini tak begitu.

Namun ajaibnya, Tea bisa menebak lebih dari setengah – dan bahkan bila lebih konsentrasi – bisa sampai sekitar 80 persen dari total kartu. Bahkan bila saya tutup bagian deskripsi di bawah dimana ibunya nggak bisa baca, total jumlah tebakan yang benar dari dede Tea jauh mengalahkan ibunya.

Waktu itu saya ingat betul tatapan mata aneh, dan desisan dari mulut ibunya (dan selanjutnya, neneknya)

Oh la la, gimana caranya?

“Apakah anak saya mempunyai pandangan x-ray?”

Hahaha.

Kepenasaranan saya (dan juga istri) mengantarkan sesi permainan (dan juga eksperimen 🙂 ) terakhir sampai saat ini

 

Sesi 3: semua angka ditutup
Di sesi ini semua angka ditutup. Bukan hanya bagian atasnya, tapi juga bagian bawah, semua bagian angka sehingga pada dasarnya para pemain menebak angka yang tidak kelihatan (atau kelihatan sedikiiiit sekali). Ini sebuah “hil yang mustahal”, yang mungkin bisa dikembangkan jadi salah satu trik sulap :).

angka_4 angka_3

Tetap saja, Tea bisa menebak lebih dari setengah tumpukan kartu, mengalahkan ibunya.

Ini ‘keajaiban’ yang kemudian membuat saya menyadari lebih dalam sebuah kecakapan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pandangan x-ray. Dan persisnya apa yang sering terlewatkan dari perhatian banyak orang.

– – –

Kemampuan “X-Ray” bawaan yang tak kita kenali

Pandangan x-ray tentu hanya ada di komik. Prilaku anak saya tersebut, kecakapan menebak penanda visual bahkan ketika secara ekstrim hanya sebagian kecil saja yang nampak, saya percaya dimungkinkan oleh peranan kecakapan kognisi visual at its best (seperti yang saya tuliskan di sini dan di sini).

Cara kerjanya kurang lebih kayak gini:

Seperti yang kita tahu, kita menghafal angka, salah satunya dari bentuknya. Angka 1 mempunyai bentuk yang tegak lurus, sementara angka 2 mempunyai lengkungan di bagian atas dengan bagian dasar mendatar, angka 3 adalah angka dengan lengkung di bagian atas dan bawahnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Namun, anak saya (dan mungkin juga anak-anak lain dengan kecakapan visual yang lebih menonjol-dibanding kecakapan lainnya) bisa mengembangkan semacam sistem berpikir (mengenali/mengidentifikasi, mengasosiasikan, mengingat/ menghafal, membayangkan, menebak dan lain sebagainya) lebih dari hanya sekedar melalui bentuk hurufnya saja.

Dalam permainan kartu tersebut, Tea berhasil mengikutkan sertakan atribut visual lain, yang seringkali terlewatkan oleh orang dewasa yang cenderung memiliki praduga lebih kuat dan pola prilaku penglihatan yang sudah sedemikian tersaturasi oleh kebiasaan.

Yang saya tulis sebagai ‘kebiasaan’ ini sendiri adalah semacam prilaku yang kecakapan yang bersifat overlook, melihat bagian tertentu secara berlebihan, dan underlook, memandang bagian lain secara kurang utuh.

Sementara ibu dan neneknya hanya berfokus pada menafsirkan bagian huruf (dan sangat kesulitan ketika di sesi 3 semua bagian huruf ditutup), anak-anak seperti Tea bisa secara kreatif menyertakan berbagai petunjuk visual selain huruf. Yang pada dasarnya masih ada banyak seperti:

  • Tepi guntingan masing-masing kartu (yang tidak sama antara satu kartu dengan lainnya akibat pengguntingan yang tidak presisi)
  • Warna background. Beberapa angka bisa dikelompokkan karena mempunyai warna background yang berbeda. Angka-angka 10, 17, 18, 21, 23, & 24 (perhatikan foto di bawah) mempunyai warna background yang spesifik-hanya dimiliki oleh angka tersebut, angka-angka lain bisa dikenali dari kombinasi dua warna background yang berbeda.
Foto semua angka kalau dijejerkan. Bisa tahu apa yang terlewatkan?
Foto semua angka kalau dijejerkan. Bisa tahu apa yang kita lewatkan?

Secara umum, dari kombinasi tepi guntingan dan warna background ini saja beberapa angka bisa ditebak dengan mudah. Tapi ini hanya sebagian saja.

Beberapa angka yang lain bisa dikenali melalui ciri-ciri khusus yang hanya bisa terlihat bila memiliki/ sanggup memandang sepenuhnya secara jelas dan cekas.

Seperti ketika saya menanyakan ke dede Tea, kok bisa menebak angka 16 dengan 15 (seperti tertera di salah satu gambar di atas) padahal keduanya punyai warna background yang mirip, dan tepian kartunya tak terlihat karena tertutup oleh tangan.

Dengan enteng beliau menjawab:

“Soalnya di angka 16 itu ada kotorannya”.

Kotoran?

Can you believe that?

Yes. Kotoran, bekas lipatan, dan berbagai petunjuk visual sebetulnya sudah sebegitu banyak terikutkan bahkan dalam satu struktur visual saja. Dan ini persisnya hal sering terlewatkan oleh pandangan mata orang dewasa saking sebegitu “normal”nya kekurang cakapan visual di dunia mereka.

hayo coba tebak, manakah diantara kedua kartu ini yang angkanya 16?
hayo coba tebak, manakah diantara kedua kartu ini yang angkanya 16?

– – –

Dan begitulah ajaibnya para anak-anak. Dalam berbagai hal, termasuk kecakapan visual, mereka adalah versi yang lebih cerkas dari orang dewasa. Dibanding mereka, saya hanyalah orang yang terkagum-kagum dan terpaksa harus belajar banyak hal untuk bisa mengikutinya.

Namun, lepas dari hal tersebut, saya benar-benar harus berucap Alhamdulillah, karena ternyata anak saya “normal”, sama sekali tidak memiliki pandangan x-ray. Dan bersyukur, karena kita tak perlu jadi Superman untuk bisa membaca apa yang tertutupi. Kita hanya perlu mengembangkan lebih baik kecakapan visual yang sudah disediakan sejak kita kecil :).

Begitu barangkali. Mudah-mudahan bermanfaat.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *